Berpura-Puralah, Karena Kenyataan Akan Melukai Hatimu

“Topeng mencerminkan drama. Topeng di identikkan kepada “kepura-puraan” atau lakon pada suatu pementasan drama.”

Istilah teater tidak terdengar asing di telinga kita, bahkan fasilitas media hiburan seperti bioskop, gedung pertunjukan musik, tarian, juga drama bisa dikategorikan sebagai teater. Teater sebenarnya berasal dari kata theatron, diambil dari bahasa Yunani yang mempunyai arti seeing place atau tempat tontonan.

Seorang Musai Melpomene (The Tragedy), yang selalu digambarkan menggenggam topeng bermimik tragedi dan mengenakan sepatu boot (buskin). Ia selalu disandingkan dengan saudaranya yaitu Musai Thalia (The Comedy), digambarkan dengan topeng bermimik komedi dan mengenakan sepatu bersol tipis (soccus). Topeng untuk mencerminkan drama. Topeng di identikkan kepada “kepura-puraan” atau lakon pada suatu pementasan drama. Kedua jenis topeng inipun dikenal sebagai The sock and The buskin yang menjadi simbol Yunani Kuno, di sanalah terlahir drama dalam hal ini merujuk pada drama pertunjukan pada teater. Musai atau dalam Bahasa Inggris dikenal sebagai Muse, Muse sendiri merupakan anak antara Dewa Zeus dan Mnemosine yang membentuk sekelompok dewi yang melambangkan seni, awalnya hanya ada tiga orang Musai saja tetapi dalam perkembangannya jumlahnya bertambah menjadi sembilan.

Sembilan Muse. Sumber foto: Wikipedia.com

Penyebaran teater pun meluas hingga ke belahan dunia lain seperti teater Persia kuno yang terkenal yaitu Naghali, Pardeh Khani, teater Romania kuno, teater sanskrit di India, pertunjukan tarian naga di Cina, Jepang seperti Kabuki, hingga berujung kepada seorang sastrawan besar Inggris Yakni William Shakespere, yang dikenal karena karya sastra dramatisnya. Dewasa ini pemaknaan teater semakin melebur, dengan istilah teater kita mampu mengetahui seluruh warisan budaya drama, sastra drama, yang disajikan dengan bentuk jenis pertunjukan seperti mime, pantomime, kabaret, wayang kulit, wayang golek, dan seni pertunjukan lainnya.

Kiri: Patung Thalia (The Comedy) 117-138 SM, Vatikan Museum. Kanan: Patung Melpomene (The Tragedy), buatan Romawi pada abad kedua M. Sumber foto: Wikipedia.com

Teori asal mula teater ini sebetulnya berasal dari upacara agama primitif jauh sebelum jaman Yunani Kuno, upacara yang biasanya bersifat mistis dengan penghayatan dan keseriusannya sebagai bentuk sesembahan kepada dewa, roh, atau penguasa alam. Berasal dari kesukaan manusia bercerita, dan mendengarkan cerita hingga berkembanglah kemudian menjadi sebuah seni pertunjukan (seperti tema romansa, kepahlawanan, perang, legenda, sosial dll).

Sekitar tahun 600 SM di Yunani ada pertunjukan khusus untuk menghormati dewa Dyonysius yaitu dewa anggur dan kesuburan. Pertunjukan tersebut biasanya berbentuk festival tarian dan nyanyian. Kemudian mereka menyelenggarakan sayembara pertunjukan dimana ada tarian dan nyanyian yang didasarkan pada sebuah cerita, kemudian dikenal sebagai sayembara pertama. Sayembara biasanya dilakukan di kota Athena dengan aliran pertunjukan drama tragedy. Pemenang sayembara pertama kali saat itu ialah Thespis, yang kebetulan adalah seorang aktor dan penulis tragedi yang pertama dikenal di dunia. Thespis sebenarnya merupakan tokoh historis tetapi oleh masyarakat Yunani kuno dijadikan legenda, dan segala seuatu tentang drama dinyatakan sebagai penemuan Thespis, maka dari itu seorang aktor pertunjukan selalu disebut sebagai Thespian.

Teater kuno Dynonysius, Athena, saat ini. Sumber foto: Wikipedia.com

Perkembangan drama Yunani mengalami puncaknya sekitar tahun 400 SM. Drama masih diperuntukan sebagai bagian dari upacara agama. Upacaranya terbuka untuk umum. Tempat pertunjukan yang terkenal di Athena adalah teater Dyonysius, terletak disamping bawah bukit Acropolis, yaitu pusat kuil di Athena.

Pada akhir Tahun 400-an SM festival drama Dyonysius tidak melulu drama tragedy malah sang aktor peserta festival harus menyuguhkan tiga tragedi dan satu satir. Satir ini dimaksudkan sebagai komedi ringan dan pendek yang jenaka sebagai parodi terhadap mitologi. Pada tahun 300-an SM komedi pun muncul. Komedi berasal dari kata Komodia yang maknanya membuat gembira. Dalam komedi pelaku utama biasanya memerankan tokoh sebagai pembawa ide gembira, misalnya pembawa pesan damai untuk mengakhiri perang, seluruh cerita naskah drama pada saat itu berakhir menggembirakan. Karena saat itu tidak ada, atau tidak boleh ada percampuran jenis cerita drama antara komedi dan tragedi (karena pertunjukan tragedi bermula dari perayaan upacara keagamaan). Biasanya setelah pertunjukan komedi, acara dilanjutkan dengan Komos yakni keluar arena pertunjukan dan mengadakan pesta dengan penuh kegembiraan.


Topeng The sock and The buskin sempat muncul pada cuplikan seri televisi kartun Family Guy pada episode “Brian’s Play.”

Proses penciptaan artwork Reality. Dok. Pribadi

Case Study kali ini, selain dari latar belakang kesenian sastra teaternya yang sudah dibahas di atas, kami pun ingin sekedar mendedikasikan peninggalan sejarah yang amat begitu penting bagi perkembangan seni, dalam hal ini seni pertunjukan teater.

Eksekusi teknik gambar konvensional selalu kami pilih demi menjaganya tradisi, dengan sedikit menerapkan teknik stippling sebagai penunjang untuk memeberikan refleksi dua dimensi. Pencantuman frasa “reality will break your heart” mempunyai makna yakni selalu berpegang teguhlah pada apa yang kamu miliki saat ini. Syukuri dan selalu berusaha agar harapan terus terjaga. Karena kehidupan ini akan selalu datang menghantui dan memberi tahumu terhadap mimpi-mimpi yang tidak bisa kalian raih.

Detail artwork. Dok. Pribadi

Referensi


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *