[Case Study] DPM Armymen Urban Camouflage

Kami baru saja merilis edisi capsule collection berjudul “DPM Armymen Urban Camouflage”. Koleksi ini berisikan t-shirt, sweater, sweatshort, dan trucker hat, yang jadi pembeda adalah motif camo yang tersemat di koleksi ini kami ciptakan sendiri. Case Study ini akan membahas lebih dalam proses kreatif di balik penciptaan motif camo-nya.

Mari kita mulai dengan mengenal motif camo DPM. Disruptive Pattern Material (DPM) merupakan salah satu motif camo yang diperkenalkan British Special Forces pada tahun 60’an. Jika kamu pernah melihat corak seragam lapangan Tentara Nasional Indonesia (TNI), itu juga menggunakan motif serupa. DPM menerapkan tiga hingga empat pola warna penyusunnya. Contohnya, warna gradasi hijau dan coklat yang menyerupai pola hutan, atau gradasi dari coklat tua dan coklat muda untuk pola gurun. Dalam pengembangannya, DPM diaplikasikan pada motif urban camo dengan pola warna hitam, putih, abu-abu, merupakan seragam lapangan yang digunakan tentara Amerika untuk tugas perkotaan dan industri.

Soal motif camo ciptaan WADEZIG!, DPM Armymen Urban Camouflage tersusun dari empat warna dasar yaitu krem, putih, hijau dan hitam. Tiga warna yang disebutkan di awal membentuk pola acak saling mengisi. Ketiga warna tersebut kemudian ditimpa warna hitam, yang jika dilihat lebih detail menampilkan siluet seseorang sedang melakukan gerakan seperti yoga atau breakdance.

Siluet tersebut mengambil referensi dari artwork berjudul “Yoga Tee“, artwork ini pernah diaplikasikan pada t-shirt awal 2017 silam. Dalam artwork Yoga Tee, tipografi WADEZIG! hadir berbentuk human alphabet yang diperagakan para tentara. Setiap tentara memperagakan satu huruf dalam gerakan yoga, tangan dan kaki mereka sebisa mungkin menyerupai huruf-huruf. Human alphabet sendiri merupakan susunan huruf yang dibentuk dari lekuk tubuh manusia.

Kemudian, setiap huruf dibuat siluet atau bayangannya yang ditempatkan secara acak. Siluet ini mendistorsi human alphabet yang sedang dilakukan para tentara. Menjadikannya sesuatu yang baru, kita tidak bisa lagi menyebutnya sebagai tentara dengan gerakan yoga, bisa saja itu para b-boy dalam gerakan breakdance. Ruang ini sengaja dibiaskan agar kalian memiliki tafsir sendiri terhadap karya ini, apa yang kalian lihat dari siluet tersebut?

Merealisasikan motif ini ke dalam kain merupakan tantangan lain yang tak kalah rumitnya. Proses sampling berulang kali dilakukan untuk menghasilkan corak yang pas. Ditemukan bahwa material baby terry adalah yang paling pas untuk mencetak corak ini jadi gulungan kain. Ketika sudah berbentuk kain, tahap terakhir tentu saja menjadikannya sebuah produk seperti yang ditampilkan di postingan ini.

 

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *