Meski Tidak Memiliki Nama Resmi, Font Yang Jadi Penanda Budaya Di Era 80’an Ini Kembali Digandrungi, Loh!

Sebelum merchandise The Life Of Pablo populer, typeface yang tidak mempunyai nama resmi ini sudah terlebih dahulu dikenal, dan menjadi salah satu bagian subjek jurnal sub-kultur yang populer sekitar tahun 70′ dan 80’an di New York, kultur tersebut kini disebut hip-hop. Jika ditelusuri lebih lanjut, jenis font ini dipopulerkan oleh sekelompok geng jalanan yang berubah menjadi kru B-boy. Grandmaster Flash dengan track jacket-nya yang ikonik menjadi salah satu faktor font ini mulai dikenal luas, diikuti kemudian oleh grup hip-hop Rock Steady Crew, rapper Biz Markie, hingga musisi Malcolm McClaren pernah menggunakannya.

Sumber foto: itsnicethat.com

Karena belum tersedianya font berbasis digital (TTF), proses eksekusi jenis huruf ini hanya dilakukan melalui “ironed on to t-shirt” atau dikenal sebagai sablon transfer paper. Proses tersebut dilakukan karena mudah diaplikasikan dan pengerjaannya yang terjangkau dan singkat. Sangat disayangkan bahwa font yang sempat begitu populer ini sekarang menghilang begitu saja. Terlebih lagi font ini sudah menjadi bagian terpenting dalam perkembangan sub-kultur besar pada masanya.

Sumber foto: itsnicehat.com

Meskipun tidak begitu terlihat persis seperti font yang digunakan oleh merchandise tour The Life Of Pablo (TLOP), tapi kedua jenis font ini bisa kategorikan ke dalam keluarga Blackletter. Bicara mengenai seni tipografi, khususnya Blackletter, Paul Shaw seorang pakar typeface mengatakan bahwa font jenis Blackletter sangatlah populer di Negara latin seperti Meksiko. “Banyak sekali huruf Blackletter yang bisa kalian temukan pada seni jalanan graffiti diluar sana,” ujarnya.

Blackletter memiliki sejarah yang sangat mendalam pada budaya Meksiko, popularitasnya sendiri sejajar dengan penemuan mesin cetak pertama, yang ditemukan pada tahun 1538. Diwariskan oleh seorang Uskup pertama asal Meksiko Juan de Zumárraga, yang kemudian ia cetak untuk pertama kalinya dalam sebuah terbitan buku kuno berjudul “Doctrina Breve”, dengan keseluruhan isi pada teks menggunakan jenis huruf Rotunda-Blackletter.

Referensi font. Sumber foto: bengoetting.com

Pada Case study kali ini kami ingin kembali mengekspose proses desain kaos “Keep It Real”, khususnya pada eksekusi typeface. Sangat jarang sekali font sejenis ditemukan di internet, meskipun ada beberapa situs memberikan tarif harga untuk di perjual-belikan. Pada akhirnya kami memutuskan untuk membuat jenis typeface sendiri dengan bantuan software FontCreator. Langkah demi langkah kami lakukan, mulai dari pembuatan masing-masing karakter huruf A sampai Z hingga tanda baca sekalipun. Ada beberapa perbedaan dari font yang kami adaptasi, ini bisa kalian lihat pada huruf A, D, T dan S, disamping itu kami pun menyertakan bilangan angka Arab.

Font yang sudah kami buat dalam bentuk Pangram bahasa Inggris. (Dok. pribadi)

Setelah sempat populer dan menghilang, kini perlahan font jenis ini mengalami era kebangkitan. Selain dihidupkan kembali dan digunakan oleh banyak produk streetwear, proyek seni “Heated Words Project” garapan seniman Rory McCartney dan Charlie Morgan dengan pamerannya di tahun 2015 jadi titik balik untuk font ini. Proyek tersebut merupakan dedikasi mereka untuk melanggengkan jenis font ini. Ini mengingat pada jamannya produk pakaian sportwear sekitar tahun 1970-an. Sebuah font yang dirancang sedemikian rupa agar tetap terlihat melambangkan sebuah keatletisan, ucap McCartney.

Font ini bisa kalian unduh dan digunakan secara bebas, untuk mengunduhnya klik tautan di bawah ini.

Referensi 1
Referensi 2


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *