Ketika Stereoflow Bermain Dengan Nada, Irama, dan Warna

Ruang pameran Salian Art berlatar putih yang beralamat di Sersan Bajuri, Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, menjadi penuh warna tatkala Adi Dharma atau dikenal sebagai Stereoflow menggelar pameran bertajuk “Beatscape”. Stereoflow merupakan seorang street artist yang tergabung dalam FAB Family dan telah turun di dunia seni jalanan sejak tahun 90’an. Pameran tunggalnya ini berlangsung dari 1-21 Agustus 2015, sebagai bagian acara dilangsungkan juga bedah karya langsung oleh sang seniman.

IMG_8825

Menengok karya-karya Stereoflow dalam pameran perdananya ini, ia menggunakan berbagai medium dari dua dimensi hingga tiga dimensi seperti kanvas, patung kayu, dan kaca. Cat Semprot serta cat akrilik masih menjadi senjata ampuh baginya untuk mengeksekusi media-media tersebut. Stereoflow tidak melepaskan ciri khasnya, penggunaan warna-warna terang seperti pink, biru, kuning, masih dominan. Namun yang menjadi pembeda adalah hilangnya karakter Anna dan Tommy (meskipun tak sepenuhnya hilang) yang selama ini melekat dengan dirinya, digantikan visual gelombang, garis lurus, dan pola simetris lainnya. Secara sengaja Stereoflow tidak memberikan porsi dominan kepada Anna dan Tommy agar menghadirkan imajinasi yang lebih luas dan liar kepada penikmat karyanya.

IMG_8801

IMG_8809

Objek-objek gelombang, dan pola-pola geometris merupakan representasi Stereoflow terhadap musik hip-hop, dan funk yang telah ia geluti sejak lama. Musik inspirasinya tersebut ia tuangkan ke dalam karya dan membentuk pola-pola yang diterjemahkan menurut intuisi si pembuat. Kurator pameran Rifandy Priatna mengatakan, “Adi Dharma adalah seorang seniman yang banyak bekerja dengan menggunakan intuisi sebagai dorongan utamanya. Mimpi, imajinasi dan identitas adalah tema yang sering kali terdapat pada karya-karya Adi dengan balutan visual yang membawa ingatan akan langgam kubisme era seni rupa modern dari barat dengan warna-warna terang, dan pola yang berulang pada keseluruhan bidangnya,” ujarnya. Lebih lanjut ia berkata, “melalui instalasi, objek dan lukisan Adi mencoba untuk menerjemahkan ingatan, pengalaman, mimpi serta visi akan skena spesifik yang telah ia selami selama ini musik hip-hop, funk dan street art.”

IMG_8791

IMG_8797

Selain lukisan di atas kanvas, karya yang cukup menarik perhatian adalah instalasi kayu tiga dimensi dalam berbagai bentuk. Khusus karya dengan media kayu, ia berkolaborasi dengan Ramadhan Muhammad Clasic. Seperti karya berjudul “Son of a Beat” memiliki dimensi 150x80x80 sentimeter, menghadirkan patung anak kecil yang sedang berdiri memegang rol cat. Sedangkan karya “Tommy Feel Good” menampilkan bagian kepala dan sebagian jari saja menempel di salah satu dinding pameran. Satu yang tidak bisa ditampikkan tentu saja kubus besar dengan diameter 27 meter kubik yang berdiri tegak di tengah-tengah ruang pameran. Kubus menyerupai kepala manusia lengkap dengan panca inderanya ini bernama “Mister Boogie Room”.

IMG_8802

Pada bagian luar, kubus ini menampilkan mimik wajah manusia, sedangkan bagian dalam diisi dengan kaleng cat semprot yang berserakan, gulungan bekas selotip, dan sebuah kursi. Stereoflow menganalogikan kubus bagian dalam adalah ruang kreatifnya yang ia anggap sebagai studio tempatnya berkreasi. Bisa juga dikatakan sebagai isi kepala manusia yang dipenuhi dengan banyak imajinasi.

IMG_8831

IMG_8814

Lebih lanjut, seluruh karya tiga dimensi dalam “Beatscape” menjadi highlights. Sejak lama Stereoflow bermimpi untuk membuat karakternya menjadi tiga dimensi, dan dalam pamerannnya kali ini hal tersebut bisa diwujudkan. Bagi yang penasaran dengan karya-karya “Beatscape” dari Stereoflow kamu bisa melihatnya melalui galeri foto di sini.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *