Lyric Music Video

Sekarang banyak sekali musisi yang mengeluarkan lyric video official. Untuk melihat sejarah adanya lyric video, kita harus kembali ke tahun 1990. Pada saat itu George Michael membuat kejutan ketika ia menolak untuk membuat video musik konvensional untuk “Praying For Time” single utama dari album Listen Without Prejudice. Sebaliknya, labelnya merilis klip sederhana yang menampilkan lirik lagu tersebut pada layar hitam. Dua puluh dua tahun kemudian, hal ini menjadi tren dunia.

Bintang pop masih membuat video konvensional untuk mengiringi lagu-lagu mereka, tentu saja, tapi sekarang banyak dari mereka yang juga merilis “video lirik resmi”. Dari perspektif bisnis hal ini sangat masuk akal. Penggemar bisa meneruskan video lirik tersebut ke temannya yang lain. Berarti lagu mendapatkan eksposur bahkan jika stasiun radio menolak untuk memutarnya di radio mereka. Ditambah, pendengar jelas sangat ingin mempelajari kata-kata dari hit/lagu favorit mereka, karena video lirik buatan sendiri menjamur dan sangat mudah kita temukan di Youtube. Namun, ketika seseorang menonton video lirik yang dibuat oleh fan, label tidak dapat menghasilkan uang dari iklan embedded, dan penggemar sering mendapatkan lirik atau pelafalan yang salah. Label music terbilang cerdas dengan menciptakan video resmi dengan kata-kata yang tepat, menghasilkan pendapatan, sekaligus menciptakan buzz.

Tapi karena video lirik telah menjadi lebih umum, video lirik resmi telah berevolusi menjadi lebih dari sekedar sebagai alat pemasaran. Video lirik yang baik adalah yang juga merupakan karya seni. Ambil contoh video lirik Katy Perry yang berjudul “Part of Me”. Video ini bisa menjadi contoh dasar yang baik, mereka menggunakan font yang menarik dan efek tipografi untuk membuat teks menjadi terlihat lebih hidup di layar. Kata-kata muncul bergantian dengan apik.

Lirik bisa saja diformat dalam font Times New Roman dan dihadirkan ke layar kaca dalam sebuah tampilan karaoke, tetapi sebaliknya, desainer menghias font-font yang ada dan menambahkannya dengan gaya gerakan teks yang berbeda. Bahkan jika kita tidak suka lagu itu, kita bisa menikmati pengalaman visual saat menonton video lirik.

Beberapa video lirik mendorong konsep ini lebih jauh. Dalam video klip “Turn Me On” dari David Guetta featuring Nicki Minaj, kata-kata menjadi begitu bersemangat dengan beat lagu yang menendang sampai-sampai mereka meledak keluar dari peralatan stereo. Kata “oooh” terbang keluar dari turntable. Dengan meningkatnya tempo, teks berubah warna dan bentuk.

Video lirik dari Jason Mraz yang berjudul “I Won’t Give Up” juga terlihat apik dan menarik. Lirik diintegrasikan ke dalam sebuah cerita tentang seorang pria yang menulis surat untuk pacarnya sampai mereka akhirnya bisa bersatu kembali. Frase muncul di amplop dan kartu pos, dengan mengikuti bait demi bait dan chorus. Kita juga bisa mengikuti pesan pria tersebut. Kemudian lirik muncul di tempat-tempat yang tak terduga – pada dinding, kotak dan lantai. Tiba-tiba, kita tahu bahwa kedua orang ini saling mencintai begitu dalam sampai-sampai hubungan mereka tertulis di segala sesuatu yang mereka sentuh. Ini bukan hanya sekedar tulisan belaka, tetapi dunia mereka yang menyatukan mereka.

Katy Perry juga baru-baru ini mengeluarkan sebuah video lirik single terbarunya dari album PRISM yang berjudul “Birthday”. Dalam video lirik tersebut, dari awal sampai akhir video tulisan lirik lagu Birthday divisualisasikan dalam berbagai bentuk kue yang terlihat enak. Mulai dari cupcakes sampai kue tart ada di video ini, berwarna-warni pula ! Yah meskipun kue-kue tersebut palsu dan di dalamnya terbuat dari foam tapi tetap saja kue-kue itu terlihat sangat enak. Perpindahan dari satu scene ke scene lainnya juga terlihat sangat mulus. Tidak terasa membosankan saat menonon video ini !

Video lirik apa yang paling kamu sukai, Crowds ?


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *