Morrgth, antara Kurt Cobain dan Dave Mustaine.

Bulan Oktober tahun ini Wadezig! mengeluarkan edisi Wadezig! Rocktober Series 2019, yang merupakan kolaborasi kami dengan seorang ilustrator bernama Morrgth. Ia merupakan graphic designer yang sekaligus vokalis salah satu band grindcore, Rajasinga. Bagi kamu yang ingin lebih mengetahui tentang ilustrator satu ini, simak interview kami di bawah ini.

Hallo Morrgth gimana kabarnya?

Kabar baik, untungnya!

Sepertinya sudah agak lega ya, album baru sudah keluar, dan kami dengar penjualannya sangat bagus! dan Apakah album “Meribut” ini sudah seperti yang diharapkan?

Ya kurang lebih seperti itu, album kali ini sedang kita mulai aktif jalankan offline promonya. Hm, “Meribut” masih dalam perjalanan, kita mencoba untuk atur strategi market untuk promo album bersama label Blackandje. Apakah sudah seperti yang diharapkan, kalo dilihat dari aktivitas.. mungkin kita belom benar-benar meribut seperti album yang sudah-sudah, jalan tour dan manggung, jadwal studio yang rapat. Ya karena situasi memang tidak sama lagi seperti di album pendahulu, beberapa kesibukan personal cukup menyita ternyata, tapi untuk agenda menuju awal tahun depan, kita sudah menyusun planning-planningnya, tinggal jalan tancap gas. Dari segi produksi dan packaging, selain dikerjakan serius bareng label Blackandje, kita puas dengan hasilnya. begitu juga dengan hasil kolaborasi kami bersama Qrimson Studio (rumah produksi desain dan visual domisili Bandung) dalam mengerjakan project video single animasi “Suara”.

Secara materi, kita semakin menemukan kebebasan dalam membuat musik dan lirik, tanpa harus takut akan ekspektasi, karena memang ditiap album, kita coba pengharapan bahkan penyamaan dengan album sebelumnya itu tidak ada. Dan Meribut adalah respon padat dan reaksi memori kita terhadap apa yang terjadi disehari hari, baik nyata maupun dunia maya, terutama di era tahun politik. Ya di konsep album yang sekarang ini, boleh dibilang kita itu ‘Ngompol” (ngomong Politik, istilahnya..) karena akumulasi  kejenuhan dan jengah dengan drama-drama dan hal berbau politisi yang terus dipaksa secara tidak sadar untuk dikonsumsi dan membahasnya. Ini yang menjadi tercetusnya Meribut.

Saya melihat Morrgth dari panggung ke panggung kebanyakan selalu memakai kemeja flanel, apakah itu menjadi ritual pakaian wajib dalam panggung, atau menghormati Kurt Cobain? Haha!

Oya? hahaha, kalian perhatian kali ah! Kebetulan saya memang merasa nyaman dengan memakai flanel atau jaket jeans/korduroy/kulit. Dan memang di keseharian, saya juga sering memakainya baik itu kalo lagi melukis di studio atau sekedar aktifitas keluar. Saya termasuk yang apa adanya untuk keseharian dan di panggung. Outfit yang saya gunakan selalu sama saja. Ha, Kurt Cobain? ..ini lebih ke Dave Mustaine! 😛

Morrgth, cerita sedikit dong, proses kreatif dibalik artwork yg Morrgth ciptakan untuk kami.

Proses kreatif untuk project ini sebenarnya masih sama dengan teknis dan ritual melukis saya seperti biasa. Sketsa datang dari hasil corat coret saya di buku, biasanya bisa sampai 3-5 wacana sketsa dan disini kemudian saya temukan penyambung idenya satu sama lain. Lalu, saya coba scan sketsa-sketsa itu, dan melayoutkan mereka di software digital sebagai kesatuan imej yang akan digambar ulang di media cat air nantinya. Lukisan “Dipaku” (ilustrasi untuk Rocktober, Wadezig) saya buat diatas kertas Arches 300gsm, ukuran 33cm x 42cm.

 

Ada pesan khusus ga, dari artwork tersebut?

Disini, saya mencoba memberikan sebuah pandangan ‘terdingin’ dari cara saya berkontemplasi. Jenuh akan hal-hal yang ditawarkan di depan mata dan ingatan, residu sampah sampah yang kadang pedih kadang indah, polemik sosial orang orang, …ya kita hidup dimasa-masa sulit yang saking suramnya, bahkan setanpun kalah. “Dipaku” bisa dikatakan sebagai manifestasi ambigu saya membaca keadaan sekarang ini. Ironis memang..?

Harapan atau mimpi dari seorang Morrgth untuk kedepannya?

Ada banyak poin yang saya idamkan dalam kehidupan saya dan berkarir. Saat ini sedang mengumpulkan beberapa karya komisi yang telah saya buat dan karya personal, yang ingin saya rangkum dalam sebuah pameran retrospektif sekedar sebagai penanda untuk yang sedang dan telah saya lakukan. Mendokumentasikan dan mempublish karya dalam bentuk buku, memproduksi stuff-stuff layak kolektibel, kemudian mimpi terbesar saya ingin membangun Morrgth sebagai sebuah foundation, workshop dan galery yang tidak hanya menaungi kekaryaan saya, tapi bisa juga karya teman ataupun memajang barang yang saya senangi miliki yang semoga bisa bermanfaat untuk kepentingan publik dan literasi. “Say amen for that!”

Satu lagu yang mewakili Morrgth saat ini?

Wah 1 lagu nih? apa ya…Rajasinga Anak Haram Ibukota barangkali? atau  coba kita mulai dari Bohren & der club of gore, “Ganz Leise Kommt Die Nacht” saja. Jadi 2 dong :))

Oke, terima kasih Morrgth atas waktunya, sampai bertemu di lain kesempatan, segan!

Sama-sama Wadezig, terimakasih buat kesempatan Rocktober-nya dan berjumpa lagi di project menyenangkan berikutnya..segan berat, sukses Wadezig!

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *