Skills to Succeed Workshop Bersama Save The Children Indonesia

Beberapa waktu yang lalu saya mewakili Wadezig! diundang menjadi volunteer sekaligus mentor dalam sebuah workshop yang diinisiasi oleh Yayasan Sayangi Tunas Cilik (YSTC). YSTC merupakan official partner dari Save The Children International (STC). Seperti yang kita tahu, Save The Children adalah Non-Governmental Organization internasional yang memperjuangkan hak-hak anak di seluruh dunia.

Workshop ini ditujukan buat anak-anak yang tergabung dalam program Skills to Succeed Indonesia, salah satu program dari YSTC/STC dalam mewadahi dan membekali anak-anak putus sekolah dengan berbagai keterampilan kewirausahaan.

Rangkaian acara yang berlangsung selama 3 hari penuh ini dibagi dalam 3 kegiatan utama, yaitu workshop dengan tema digital entrepreneurship, kunjungan ke salah satu ‘startup’ atau usaha yang sedang dirintis oleh salah seorang peserta workshop, dan yang terakhir mengajak para peserta workshop yang terpilih untuk mengunjungi salah satu perusahaan yang sudah established, dalam hal ini adalah WDZG! Playground.

Workshop hari pertama yang berlangsung sehari penuh ini sangat menarik. Para pesertanya rata-rata berusia setingkat SMU. Sebagian dari mereka putus sekolah karena alasan ekonomi. Sebagian lagi karena alasan bully, ejekan, atau sengaja meninggalkan sekolah karena selalu dicap ‘anak berandalan’ oleh guru dan masyarakat. YSTC bekerjasama dengan berbagai organisasi non-profit setempat merangkul mereka dalam program Skills to Succeed ini.

Antusiasme anak-anak ini sangat mengharukan. Dengan bersemangat mereka berbagi kisah tentang usaha yang sedang mereka rintis, apa saja kendala yang dihadapi, dan hal-hal menarik lainnya. Ada yang punya usaha berjualan kaos band impor. Peminatnya banyak, sementara dari distributor resminya di luar negeri ada batasan kuota perbulan, sehingga dia tidak bisa memenuhi permintaan pasar. Dan masalahnya lagi, dia kesulitan bernegosiasi dengan pihak distributor tentang pembatasan kuota ini, karena keterbatasan dalam berbahasa Inggris.

Ada pula yang sedang merintis jasa fotografi. Dia menawarkan jasa foto kelas ke sekolah-sekolah. Selain itu juga menawarkan jasa foto ke teman-temannya. Tapi masalahnya, foto-fotonya yang artistik dianggap aneh oleh para ‘klien’-nya. Ada ketimpangan ‘taste’ di sini. Seleranya sudah lebih maju ketimbang lingkungannya.

Ada lagi yang membuat usaha distribution outlet yang digabung dengan kuliner. Jadi selain berjualan baju, mereka juga berjualan makanan. Lalu ada lagi yang bercerita tentang usahanya membuat brand topi. Setelah resign dari tempatnya bekerja lalu menjual motor untuk modal usaha, semuanya berjalan lancar. Topinya lumayan laris. Setiap hasil usaha selalu ditabung untuk produksi berikutnya. Tapi nasib berkata lain, handphone yang selama ini menjadi ujung tombaknya dalam berjualan, mendadak hilang, dan dia terpaksa membobok kas perusahaannya untuk membeli handphone baru. Sekarang, pekerjaan yang lama sudah ditinggalkan,usaha yang sudah dirintis kandas karena kehabisan modal.

Dan banyak lagi cerita-cerita lainnya.

Menarik, lucu, sekaligus mengharukan. Banyak ide-ide yang sebenarnya sangat bagus, tapi tidak tergarap dengan baik karena berbagai keterbatasan.

Buat saya pribadi, mendengarkan cerita pengalaman-pengalaman mereka ini mengingatkan saya pada diri saya sendiri dan teman-teman seperjuangan waktu merintis Wadezig!. Bedanya, mereka merintis usahanya di usia yang jauh lebih muda dibanding saya dulu. Dan tentunya dengan permasalahan yang berbeda pula, karena perbedaan generasi yang cukup jauh.

Karena usaha-usaha yang mereka rintis masih dalam fase awal, jadi saya lebih banyak berbagi pengalaman tentang bagaimana sulitnya dulu kami membidani lahirnya Wadezig!. Saya jelaskan kepada mereka bahwa kondisi kami waktu itu tidak jauh lebih baik dari mereka sekarang. Dengan modal yang sangat seadanya, keahlian yang minim, kami merintis semuanya dari nol. Saya juga tekankan bahwa modal utama yang paling penting adalah semangat, konsistensi, dan determinasi. Lebih jauh, saya juga membahas sedikit tentang pentingnya membangun brand image, pentingnya berpromosi, dan hal-hal mendasar lainnya.

Selain saya, juga ada rekan-rekan dari berbagai bidang yang menjadi mentor. Ada ilustrator, blogger, penulis, IT developer, game developer, dan lain-lain. Masing-masing berbagi pengalaman dan masukan sesuai bidangnya masing-masing. Jadi selain tentang membangun brand, anak-anak ini juga mendapatkan banyak sekali masukan dari rekan-rekan mentor yang lain tentang seluk-beluk dunia digital, trik membuat website yang murah atau gratisan, teknik bercerita yang baik, teknik fotografi sederhana, sampai ke urusan finansial.

Karena perbedaan generasi, masalah yang dihadapi para calon entrepreneur masa depan ini agak berbeda dengan apa yang kami hadapi dulu. Tapi hal ini jadi menarik, karena selain mereka, saya dan teman-teman mentor lainnya jadi ikut belajar lalu berdiskusi bersama memecahkan masalah tersebut.

Di akhir acara, saya dan teman-teman juga saling bertukar kontak dengan para peserta workshop. Buat saya ini penting, karena setelah saling berbagi cerita dan memberikan berbagai masukan, mau tidak mau jadi tumbuh rasa tanggung jawab moral untuk selalu mengawasi dan membimbing mereka. Semoga hasil diskusi ini bisa menjadi sedikit bekal bagi mereka, amin.

Di hari berikutnya, kami para mentor mengunjungi usaha salah satu peserta, untuk melihat langsung bagaimana mereka menjalaninya. Nama usaha yang kami kunjungi ini adalah Ecotrack. Melalui Ecotrack, anak-anak ini menawarkan wisata alam trekking menyusuri sungai Cikapundung yang dimulai dari Teras Cikapundung dan berakhir di Curug Dago.

Mumu dan kawan-kawan yang ada di balik Ecotrack ini awalnya adalah para anak jalanan yang sering berkeliaran di sekitar Simpang Dago. Untuk menyambung hidup, mereka menjadi operator perahu karet di Teras Cikapundung. Oleh teman-teman dari KAP Indonesia, anak-anak ini dibina, lalu bekerjasama dengan STC, diikutkan dalam berbagai kegiatan pembekalan kewirausahaan.

Trekking menyusuri sungai Cikapundung ini sebenarnya berpotensi untuk menjadi salah satu tujuan wisata yang menarik. Apalagi dengan iming-iming finishing point-nya di Curug Dago. Selain menikmati pemandangan dan udara segar, perjalanan ini juga kaya akan edukasi tentang lingkungan dan juga sosio-kultural. Banyak hal-hal menarik yang bahkan bagi saya warga Bandung saja merupakan sesuatu yang baru. Tapi tentunya masih banyak yang harus dibenahi oleh Mumu dan kawan-kawan.

Selain mengunjungi tempat usaha mereka, pihak STC juga mendaulat kami para mentor untuk memilih beberapa orang peserta untuk diajak berkunjung ke WDZG! Playground, untuk melihat langsung dunia kerja yang sesungguhnya. Selain memberikan gambaran tentang dunia kerja, kunjungan ini juga bertujuan untuk memupuk semangat mereka. Agar mereka membuktikan sendiri, jika usaha yang dibangun dengan semangat, ketekunan, konsistensi, dan semua hal yang saya ceritakan selama workshop kemarin, maka hasilnya akan seperti yang mereka lihat di kantor ini. Atau bukan tidak mungkin, jauh lebih baik.

Selama di WDZG! Playground, mereka diajak berkeliling melihat langsung alur pekerjaan dari satu divisi ke divisi lainnya. Mereka belajar tentang kerja tim, pembagian tugas, dan pentingnya kerjasama.

Selain itu, mereka juga belajar tentang cerita dibalik WDZG! Playground. Kantor ini kami namakan WDZG! Playground bukan tanpa alasan. Kantor ini adalah arena bermain kami. Lebih jauh lagi, sesuai dengan visi Wadezig! yang sudah saya dan teman-teman canangkan sejak pertama kali memproklamirkan brand ini, kantor ini adalah tempat kami semua belajar dan saling berbagi ilmu. Kantor ini adalah sekolah, di mana akan selalu ada murid baru, dan akan selalu ada murid yang keluar setelah merasa cukup bekal untuk melanjutkan ke tingkat berikutnya di tempat lain.

Sekolah ini tidak hanya buat kami para karyawan dan pemilik usaha, tapi juga buat pembeli atau penikmat karya-karya kami. Karena itu, saya sangat bersyukur dan berterimakasih kepada Save The Children yang sudah memberikan kesempatan berpartisipasi dalam kegiatan ini. Bersyukur dan berterimakasih karena diberi kesempatan untuk berbagi ilmu dengan para future bosses. Saya selalu percaya, berbagi ilmu itu adalah salah satu bentuk pembelajaran juga. Jadi dalam hal ini yang bertambah ilmunya bukan cuma teman-teman peserta Skills to Succeed, tapi juga saya dan teman-teman mentor yang lain.

  • Ing Landjanun / Creative Director & Co-Founder of Wadezig!.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *