Suvenir Itu Bernama Kartu Pos

Sekitar tahun 1933 hingga 1958, perusahaan yang dipelopori oleh Curt Teich, Curt Teich & Company, menjadi sangat terkenal hanya karena sebuah kartu pos. Ciri khas kartu posnya, terlampir nama kota dengan huruf kapital tiga dimensi, setiap huruf mewakili ilustrasi kecil yang menggambarkan beberapa aspek kota tersebut. Disitu selalu tertulikan frase “Greeting from..”. Hal ini mendorong seorang musisi Folk Rock, Bruce Springsteen, melakukan hal serupa pada cover album “Greeting from From Asbury Park, N.J” (1973). Inspirasinya tentu datang dari ciri khas seorang Teich.

Greetings from Asbury Park, N.J, 1973. Sumber foto: Wikipedia.com

Curt Otto Teich (1877-1974), seorang imigran asal Lobenstein, Jerman, yang berimigrasi ke Amerika Serikat pada tahun 1896. Teich adalah kisah sukses dari impian Amerika klasik, ia membangun sendiri kerajaannya di bidang kartu pos yang berkembang pesat di Amerika Serikat. Berbekal pengetahuan dan pengalaman yang ia dapatkan ketika masa kecilnya di Jerman.

Hubungan dekat antara Teich dengan Jerman membuatnya tak ketinggalan perkembangan teknologi penting dalam metode pencetakan inovatif. Disamping pengaruh keturunan dan bakat dalam bidang printing, ia juga cakap sebagai pengusaha dengan pengetahuan luas, bahasa, dan ketajaman bisnis. Sehingga ia dapat mengolah keahlian ini menjadi keuntungan, yang menjadikannya pengaruh terhadap bisnis dan usaha kecil di Amerika pada masanya. Sebagai seseorang yang sukses melintasi budaya antar negara, Teich menggunakan identitasnya sebagai imigran Jerman untuk membangun bisnisnya yang sukses dengan memperluas jangkauan industri kartu pos di Amerika Serikat.

Teich dalam perjalanannya ke amerika, 1895. Sumber foto: undereverytombstone.blogspot.co.id

Sementara tampilan desain pada setiap kartu pos sangat diperhatikan, perusahaan Teich & Co pun dengan tidak tanggung-tanggung melibatkan kurang lebih 20 karya seniman karyawan. Di mana mereka bekerja pada deretan meja di bawah cahaya dari dinding jendela. Para “retouchers” ini akan menggunakan segala sesuatunya untuk memberikan sentuhan menarik pada setiap desain, mulai dari menyiapkan sebuah kuas mekanis untuk membersihkan, mewarnai, hingga mempertajam setiap detail gambar dari sumber foto yang awalnya berwarna kusam atau hitam putih saja.

Mesin offset pertama Teich dibuat pada tahun 1910 oleh Walter Scott Company. Sumber foto: collectorsweekly.com

Suplai fotografi untuk kartu pos Teich berasal dari seorang agen sales perusahaan Teich & Co, G.I. Pitchford. Terkadang hasil karya fotografi dari Pitchford merupakan kolase dari berbagai foto menjadi satu, yang menjadikannya konsep baru pada objek. Seperti pada edisi kartu pos dengan berjudul “Santa Fe Super Chief train, California 1940”, dengan menggunakan tujuh sumber foto berbeda demi menghasilkan konsep gambar kereta melintasi belukar pada perkebunan jeruk dengan sepasang gunung yang tertutupi oleh salju pada latar belakang, yang menjadikan seri kartu pos yang paling dikenal.

Kiri, G.I. Pitchford menggunakan tujuh foto kolase yang menjadi sumber salah satu kartu pos Teich & Co yang paling populer. Kanan, sentuhan ulang oleh para seniman Teich & Co dengan sedikit improfisasi pada beberapa objek. Sumber foto: collectorsweekly.com

Dewasa ini, tentu saja, hampir sudah tidak ada atau jarang sekali orang membeli kartu pos atau berkirim surat. Terkecuali mereka adalah seorang kolektor atau inginbernostalgia saja. Perangkat kamera yang terdapat pada setiap ponsel genggam dengan layanan media sosialnya seperti instagram menggantikan peran kartu pos dan bertukar surat. Perangkat tersebut bisa mewakili, dan lebih memudahkan pengguna untuk mengirimkan salam kepada teman maupun orang-orang terkasih dengan hanya mentautkannya saja.

Departemen “retouching” Teich & Co, sekitar tahun 1930an. Sumber foto: collectorsweekly.com

Case study kali ini kami ingin kembali sedikit mengangkat proses kreatif dibalik desain kaos Souvenir”. Terinspirasi dari gaya Teich yang kami bahas di atas, kaos Souvenir ini juga dengan konten ilustrasi yang kami terapkan pada setiap huruf diambil dari Lookbook April 2014 silam berjudul “The Boxer”Dimulai pada huruf W, menceritakan seorang petinju yang sedang membalut tangannya dengan lembaran kain kasa, bersiap bahwa segala kemungkinan bisa saja dan dapat terjadi di lapangan. Huruf A mewakili sebuah sarung tangan tinju yang merupakan media wajib bagi petinju. Selain berfungsi untuk mengurangi lesi pada bagian tangan, penting juga untuk utamakan keselamatan! Huruf D menggambarkan bayangan dari petinju yang menyudutkan dirinya, menyadari bahwa pertandingan belum berakhir dan masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Huruf E, Z, dan I adalah satu ilustrasi yang mengkolase tiga huruf menceritakan bahwa tidak ada kata istirahat bagi sang juara, mengerti bahwa semakin banyak anda berlatih, semakin besar pula rasa percaya diri anda. Pada huruf G foto close-up wajah yang sedang merenungi bahwa bukanlah menang atau kalah yang ia capai, tetapi proses untuk mencapai kesuksesannya adalah yang dapat membawa dia pada saat ini. Dan untuk tanda seru melambangkan tali tambang sebagai simbol logo Wadezig! yaitu twisty logo, dengan kami tambahkan jargon tema tahun ini yaitu “Blood, Endure, Sweat, Failure”.

Seperti halnya fungsi lembaran kartu pos yang berguna untuk memberikan kabar atau ucapan selamat, dengan desain Souvenir ini diharapkan menjadi pengingat bahwa kami selalu senang menyapa para Wadezig!Crowd atau pecinta Wadezig! dimanapun kalian berada. Begitu pula kaos ini adalah suvenir yang pas sebagai kado atau hadiah.

Referensi 1
Referensi 2
Referensi 3


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *