Tutu: “Bandel Itu Gak Apa-Apa, Tapi Harus Pinter”

Tutu atau Tuts, seorang graffiti artist asal Jakarta yang sudah malang-melintang di kancah street art dan graffiti lokal hingga internasional. Mulai berkarya di jalan awal tahun 2000, ia merupakan salah satu pionir pegiat graffiti di Indonesia. Karya Tutu memiliki style khas dengan warna dan elemen-elemen yang mendetail. Gaya yang ia bawa saat ini adalah buah dari eksperimen dan konsistensinya dalam berkarya. Style tersebut ia terjemahkan pada bentuk huruf maupun karakter.

Kami ajak kalian mengenal sosoknya lebih dalam, simak wawancara kami dengannya di bawah ini.

Halo Tutu apa kabar? Sedang disibukan dengan kegiatan apa akhir-akhir ini?

Halo, kabar baik, terima kasih sudah diberi kesempatan ngobrol bareng. Kegiatan terakhir gue kemarin membuat mural untuk salah satu Universitas Negeri di Jakarta dan sempat juga berkolaborasi dengan beberapa brand untuk promo mereka.

Meski sudah banyak yang tahu, boleh dikenalkan kembali siapa itu Tutu? Bagaimana awal mula terjun di dunia graffiti & street art?

Nama gue TUTU atau TUTS, gue pertama kali berkarya di jalan sekitar tahun 2000. Pada awalnya gue gambar di jalan memakai teknik stencil, lalu berpindah membuat karakter. Pada tahun 2010 gue mulai mencoba lettering melukis style huruf. Dari elemen-elemen yang gue buat, gue mendapatkan style yang ada sekarang. Dari style itu gue juga menterjemahkannya ke huruf ataupun karakter. Dan sekarang gue sedang mencoba masuk ke seni kontemporer yang lebih abstrak.

Jika kami boleh tahu, bagaimana tahapan/proses yang dilakukan Tutu ketika menggambar di tembok? Langkah-langkah apa yang dilakukan?

Gue yakin proses berkreasi bagi seorang yang benar benar seniman itu selalu berubah-rubah. Kalau ia hanya repeating apa yang pernah ia lakukan sebelumnya, artinya dia hanya jalan di tempat. Gue bersyukur menjadi orang yang gampang bosan. Itu membuat proses gue selalu tidak sama. Apakah itu dari teknik, cara kerja, material, pemikiran, bahkan pemilihan elemen dan warna.

Sebagai contoh: dulu proses menggambar gue standar banget, bikin skets di rumah, cari tembok, pilih warna cat semprot, dan ngemural sesuai skets. Tapi gue merasakan suatu kebosanan yang luar biasa waktu mentransfer skets di kertas ke tembok. Rasanya cuma ngejiplak. Sekarang, gue gambar jarang banget pakai skets. Kalau bikin skets, pasti jadinya juga lain dari skets. Gue senang improvisasi waktu menggambar. Itu bikin gue lebih peka terhadap artwork gue.

Jika tidak sedang menggambar, seperti apa keseharian seorang Tutu?

Gue punya studio ilustrasi untuk pekerjaan komersial. Usaha Kecil kecilan. Selebihnya gue ngurus rumah dan keluarga.

Wall of Connectivity for World Bank Head Quarter, Washington DC #worldbank #IMF

Sebuah kiriman dibagikan oleh _TUTS_ (@tutugraff) pada

Bagaimana seorang Tutu melihat geliat graffiti dan street art di Indonesia sekarang?

Maju pesat. Sekarang itu golden era-nya graffiti Asia. Dan scene Indonesia termasuk lima besar. Scene Amerika dan Eropa sudah lewat. Pelaku luar juga sudah mengakui hal ini. Makanya ini saatnya untuk showcase artwork kita ke mancanegara. Gue senang dengan perkembangan ini, karena makin hari makin ada seniman baru yang karyanya sangat bisa diperhitungkan. Yang diperlukan sekarang itu justru profesionalisme dan attitude pelaku seninya. Hal itu harus jalan berbarengan.

Tentang artwork yang dibuat untuk kolaborasi Tutu X Wadezig!, apakah ada cerita khusus mengenai objek gambar yang dibuat?

Pertanyaan yang menarik. Konsep pemikiran gue disini sebenarnya berasal dari kecendrungan zaman sekarang dimana banyak manusia yang merasa dirinya paling benar dan suka sekali mengajak orang lain mengikuti pemikiran dia. Padahal manusia seperti ini belum merasakan pengalaman yang membuat dia sadar kalau manusia itu hanya sebagian kecil dari apa yang ada sekarang.

Oleh sebab itu gue membuat visual sosok manusia yang melihat keatas dan dikelilingi lintasan universe.

Bagi gue, Ini simbol dari banyaknya hal yang belum dipahami manusia di alam semesta ini. Dan menuntut manusia untuk lebih bijak dalam berpikir dan berbicara serta mencari tahu hal hal yang belum diketahuinya. Istilah “knowledge is the king” mungkin cocok di sini. Dengan mencari tahu dan menjadi pintar orang akan bertindak baik dan berpikiran terbuka.

Dihubungkan dengan isu terkini terkait tiga pemuda di Bogor yang mencoret tugu helikopter TNI AU, ada komentar? (Ketika draft wawancara ini dibuat sedang ramai pemberitaan tentang tiga pemuda di Bogor yang mencoret tugu helikopter TNI AU. Link berita terkait.)

Setiap apa yang dilakukan tentu ada resikonya. Menurut gue bandel itu gak apa-apa, tapi harus pinter. (gue cuma komen itu, hahaha)

Bagaimana Tutu memaknai ruang, khususnya tembok jalanan dan galeri pameran, sebagai media bagi para graffiti artist berkarya? Pengalaman apa yang bisa dibagi ketika menjamahi ruang tersebut?

Itu tergantung bagaimana kita menyikapi artwork kita. Terus terang gue lebih senang kalau orang lain bisa menikmati karya gue. Tembok jalanan sebagai ruang publik dan galeri pameran sebagai ruang lingkup pemirsa terbatas jelas punya kriteria berbeda. Di jalanan itu lebih chaos. Orang yang ngerti seni, orang yang tidak mengerti seni, dan orang yang tidak peduli nyampur jadi satu. Disitu gue dapat komentar yang sangat beragam. Ada yang bilang “mas, gue suka warnanya, tapi gue gak ngerti mas gambar apa,” atau menebak-nebak, “ini gambar ayam ya mas?” Hal-hal spontan seperti itu sebenarnya menandakan terjadi proses empati dari seniman ke pemirsa. Pemirsa berusaha menikmati karya si seniman. Kalau di galeri, levelnya berbeda. kolektor dan kurator sudah mengerti benar pakem dan kriteria art. Jadi gue ingin menyuguhkan sesuatu yang lebih di sini, apakah dari segi teknik, detail  ataupun pemikiran. Tapi pada waktu yang bersamaan, gue juga harus tetap konsisten jujur dengan diri gue sendiri. Nah.. proses itu yang menegangkan. Yang lebih menariknya lagi adalah setiap orang punya proses pengalaman yang beda-beda dalam menyikapi ini.

Jika mesin waktu itu ada dan Tutu memiliki satu kesempatan untuk kembali ke masa lalu, kira-kira hal apa yang ingin diubah atau diperbaiki?

Gue sih lebih penasaran dengan apa yang akan terjadi ketimbang melihat masa lalu. Ide dan gagasan baru lebih menantang untuk dikerjakan lengkap dengan kesalahan dan kecelakaan dalam berkarya yang gue belum rasakan. Hal itu yang menurut gue membuat seorang seniman yakin dan tidak takut dengan karya-karyanya kedepan.

Kalau ada 8 lagu favorit sepanjang masa, soundtrack, atau yang sering didengarkan akhir-akhir ini apa saja itu?

  1. Atariwave – Quok
  2. Primo – Ark Patrol
  3. Sadboy – Naaz
  4. Sacred Trek – Jade Cicada
  5. Satoshi Nakamoto – Gramatik feat. Adrian Lau
  6. Crimes & Misdemeanours – The Herbaliser feat. Twin Peaks
  7. Song For John Walker – DJ Krush Sticky Mix by Anticon
  8. This Time ( I’m Gonna Try It My Way ) – DJ Shadow

Ada pesan untuk mereka yang baru ingin terjun di dunia graffiti dan street art? Sekaligus kata penutup untuk mengakhiri wawancara ini?

Jujur jadi diri sendiri, Itu modal dasar seorang perupa. Berkawan dan Jaga hubungan baik dengan semua orang, Jaga dan kembangkan scene-mu. Tiga hal yang sangat mendasar.

 


One reply on “Tutu: “Bandel Itu Gak Apa-Apa, Tapi Harus Pinter”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *