WDZG! Familia Vacation: Dari Terik Ke Sejuk & Jejak Eksplorasi Batu

Libur lebaran dirasa kurang bagi kami, karena itu pada 10-12 Juli lalu kami memutuskan untuk pergi berlibur. Destinasi yang dituju yaitu kota Batu, Malang, tempat ini dipilih karena cuacanya yang sejuk dan itu cocok untuk melepas penat pekerjaan. Ada banyak kegiatan yang kami lakukan di sana, kami akan berbagi pengalaman dan bercerita keseruan yang terjadi ketika kami di Batu.

Senin, 10 Juli 2017 (Hari Pertama)

Dini hari sekali kami sudah harus bergegas menuju Bandara Husein Sastanegara, pesawat yang kami booking akan berangkat jam 07.25. Itu artinya kami sudah harus berada di bandara sekitar satu hingga dua jam sebelum keberangkatan. Ada 15 orang yang berangkat hari ini, setelah menunggu satu sama lain hingga lengkap kami langsung menuju counter check-in dan menunggu di terminal keberangkatan. Beruntung pesawat datang tepat waktu, dan kami langsung terbang menuju Surabaya.

Perjalanan Bandung-Surabaya ditempuh kurang lebih dalam waktu satu jam, kami mendarat di Bandara Juanda, Surabaya. Dari sini perjalanan menuju Batu dilanjutkan dengan menggunakan mobil elf. Cuaca mulai terasa terik, kami menyusuri jalan utama penghubung Surabaya-Malang. Pemandangan di sekitar didominasi oleh truk-truk tonase besar dan pabrik di kanan-kiri. Setengah perjalanan, papan penunjuk jalan menandai bahwa kami melewati kota Sidoarjo. Rasa getir hinggap tatkala melewati daerah Porong yang terkena dampak bencana luapan lumpur panas Lapindo. Rumah-rumah sekitar hancur, tanggul penahan lumpur menjulang tinggi persis disamping rel kereta api.

Mobil terus melaju melewati beberapa daerah seperti Pandaan, Pasuruan, hingga tak terasa kami memasuki Malang. Kemacetan menyambut kami, ini menyebabkan jarak tempuh menuju Batu makin lama. Kami baru tiba di Batu tepat jam 14.00 siang, dan hal pertama yang dilakukan yaitu makan siang di Deduwa Resto dengan menu Nasi Rawon. Udara Batu yang dingin dan rasa lelah kami diperjalanan terbayar dengan sajian yang menggugah selera.

Museum Tubuh mengajak kita mengenal lebih dalam tentang bagian-bagian tubuh.

Tenaga sudah terisi, kami siap mengeksplorasi semua yang ada Batu, dan destinasi pertama yang kami kunjungi yaitu Jatim Park I dan Museum Tubuh. Tempat ini banyak memberi kami edukasi dan wawasan tentang berbagai hal. Di Museum Tubuh kami diajak seolah-olah memasuki bagian tubuh manusia, yang diawali melihat bagian otak raksasa, berlanjut ke hidung, usus, gigi, telinga, mulut, dll. Dengan alat peraga yang interaktif, berbagai informasi tubuh manusia disajikan.

Berlanjut dengan memasuki wahana Jatim Park I, selepas gerbang pemeriksaan tiket terdapat berbagai miniatur rumah adat dan kebudayaan Indonesia. Dari Aceh hingga Papua, manekin-manekin menggunakan pakaian adat di kanan-kiri dan rumah-rumah tradisional menjulang. Lewat dari sini, kami memasuki bagian Science Center dengan alat-alat percobaan aplikasi dari ilmu fisika, kimia, hingga biologi dasar. Beberapa alat bisa kita coba langsung dan dimainkan. Selanjutnya kami melewati Taman Sejarah, yang memuat informasi tentang kerajaan-kerjaan Nusantara dan warisan peninggalannya. Terdapat replika arca dan stupa lengkap dengan informasi pendukungnya. Dilanjutkan dengan tampilan sejarah Indonesia di era kemerdekaan. Bagian-bagian ini dilewati dengan cepat dan kami hanya melihat seperlunya mengingat waktu semakin sore dan jam kunjungan yang akan segera berakhir.

Catur raksasa dengan tokoh penari topeng.

Miniatur rumah etnik Papua.

Bagian paling menyenangkan di Jatim Park I yaitu ketika kami mencoba wahana permainan seperti masuk ke rumah hantu, bertabrakan di Bumper Car, dan berputar di Flying Tornado. Sangat disayangkan kami tidak sempat mencoba semua wahana. Melalui pengeras suara pengelola mengumumkan bahwa waktu kunjungan telah habis, artinya kami harus meninggalkan area tersebut. Dengan sedikit terpaksa, kami berjalan keluar melewati lorong kios-kios pedagang oleh-oleh dan penjual lainnya. Setibanya di luar, area Jatim Park I telah dipenuhi penjaja bakso malang, dan sambil istirahat sejenak kami mencoba kudapan yang disebut-sebut sebagai khasnya kota ini.

Berani naik wahana ini?

Malam menjelang, udara Batu semakin dingin dan kabut mulai menyelimuti. Kami meninggalkan area Jatim Park I untuk makan malam dan check-in hotel. Perjalanan belum berakhir, masih ada satu agenda di hari pertama ini yaitu berkunjung ke Batu Night Spectacular (BNS).

Malam di Batu terasa berbeda kala itu, jalanan terasa lengang dan tidak terlalu ramai. Lampu-lampu hias warna-warni menemani perjalanan kami ke BNS. Sesampainya di BNS lampu-lampu hias serupa lebih banyak dan lebih terang, karena konsep tersebutlah yang diusung tempat ini. Layaknya pasar malam yang lebih tertata rapi dan pengelolaan yang lebih baik, BNS menawarkan berbagai wahana permainan yang tak beda jauh seperti ketika kami berada di Jatim Park I. Bedanya wahana-wahana tersebut didekorasi lampu kelap-kelip dan pengalaman BNS yang hanya bisa dinikmati malam hari.

Batu Night Spectacular yang spektakuler.

Asyiknya menikmati malam di Batu membuat kami lupa waktu. Hampir tengah malam kami baru kembali ke hotel untuk beristirahat. Oh iya, selama di Batu kami menginap di Hotel Kartika Wijaya.

Cerita ini belum selesai. Penasaran apa yang kami lakukan di hari kedua dan ketiga? Tunggu kelanjutannya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *